Jumat, 21 September 2012
Dwitasari :): Semua yang Kusebut Kamu!
Dwitasari :): Semua yang Kusebut Kamu!: Semua yang kusebut kamu adalah langit yang membuai riuh dalam keramaian Semua yang kusebut kamu adalah sapa lembut dewi matahari yang mel...
Dwitasari :): Sepotong Senja Untuk Mantanku
Dwitasari :): Sepotong Senja Untuk Mantanku: “Bagas, Lintang, Langit, Laut! Itulah nama anak-anak kita.” ucapmu semangat, dibalut senyum yang mengembang di sudut bibirmu. “M...
Dwitasari :): Penyebab Tangisku? KAMU!
Dwitasari :): Penyebab Tangisku? KAMU!: Kelas Bahasa Mandarin, 17 Januari 2012 Untuk Penyebab Tangisku, Kupandangi lagi foto-foto itu, kuingat lagi kenangan-kenangan itu, kuingat...
Dwitasari :): Setelah Kita Putus
Dwitasari :): Setelah Kita Putus: “Aku bisa sendiri.” aku menghempaskan tangannya dengan kasar ketika ia mencoba membersihkan ice cream di bibirku. ...
Dwitasari :): Satu Tahun. Tanpamu.
Dwitasari :): Satu Tahun. Tanpamu.: Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam ke arah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama. Leta...
Dwitasari :): Senyata apakah kamu?
Dwitasari :): Senyata apakah kamu?: Ternyata, perkenalan bertahun-tahun tidak menjamin cinta bisa hadir. Juga tatap muka yang begitu sering tak menjadi pembuktian, bahwa cinta...
Dwitasari :): Mereka yang berjuang walau kesakitan
Dwitasari :): Mereka yang berjuang walau kesakitan: Sesuatu yang dipersatukan Tuhan tak dapat dipisahkan manusia. Seringkali kita menyebutnya jodoh. Ketika berlari, selalu tertuju ke arah ya...
Dwitasari :): Pria dalam Pelukku
Dwitasari :): Pria dalam Pelukku: Dia selalu memelukku seperti ini. Dengan lengan yang begitu lekat dan hangat, sampai bibirku tak mampu lagi ceritakan luka yang kurasakan. ...
Langganan:
Postingan (Atom)
